Oleh: Prof. Dr. Hamzah, SH, MH
Universitas Lampung (Unila) tidak hanya dibangun dari gedung, laboratorium, buku, maupun capaian akademik. Lebih dari itu, sebuah perguruan tinggi dibangun dari marwah, integritas, dan keteladanan orang-orang yang mengelolanya.
Momentum Pemilihan Rektor (Pilrek) Unila untuk masa jabatan 2027–2031 menjadi bagian penting dalam perjalanan universitas. Momentum ini dapat menjadi ruang untuk menata kembali langkah, memperkuat tata kelola, sekaligus membangun kepercayaan terhadap Unila sebagai salah satu perguruan tinggi penting di Lampung.
Bagi saya, kebangkitan Unila tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik ataupun capaian akademik. Ada fondasi yang jauh lebih penting, yakni kepercayaan.
Kepercayaan tidak lahir begitu saja. Ia dibangun melalui integritas, transparansi, keteladanan, kebersamaan, serta kemampuan perguruan tinggi menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Integritas sebagai Fondasi
Good university governance tidak boleh berhenti sebagai istilah dalam dokumen perencanaan. Prinsip tersebut harus hadir dalam praktik sehari-hari pengelolaan kampus.
Ada setidaknya tiga aspek yang menurut saya perlu terus diperkuat, yakni transparansi keuangan, transparansi pembangunan, serta transparansi arah pengelolaan universitas, khususnya dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sebab, kampus yang besar bukan semata-mata kampus dengan banyak profesor, gedung megah, atau fasilitas lengkap. Kampus yang besar adalah kampus yang mampu menjaga kepercayaan.
Dalam konteks itu, saya teringat keteladanan Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad, rektor pertama Unila periode 1973–1981.
Sitanala Arsyad, putra Lampung Tengah, dikenang melalui cerita sederhana tentang integritas. Ia disebut menolak tawaran rumah dan mobil dinas untuk kepentingan pribadi.
Bagi saya, kisah tersebut menunjukkan bahwa jabatan merupakan amanah, bukan ruang untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Ada pula cerita tentang kebiasaan Sitanala Arsyad berkeliling kampus selepas salat Subuh. Ketika menemukan pohon tumbang atau fasilitas yang rusak, ia segera berkoordinasi dengan staf agar persoalan tersebut ditangani.
Bagi saya, teladan itu mengandung pesan penting: tidak ada persoalan yang terlalu kecil bagi seorang pemimpin.
“Sekelumit kisah sederhana itu dapat menjadi pedoman untuk berbuat lebih baik dan lebih besar lagi sebagai civitas kampus.”
Kepemimpinan, pada akhirnya, bukan hanya tentang membuat kebijakan. Kepemimpinan juga tentang hadir, melihat, peduli, dan bertindak.
Menyatukan Kekuatan Unila
Unila memiliki modal besar untuk berkembang. Modal itu bukan hanya berupa fasilitas dan sumber daya finansial, tetapi terutama sumber daya manusia.
Sekitar 1.309 dosen aktif, termasuk sekitar 171 guru besar atau profesor, tersebar di berbagai fakultas. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di dalamnya terdapat kekuatan intelektual yang dapat menjadi energi besar bagi kemajuan universitas.
Karena itu, kolaborasi lintas fakultas perlu terus diperkuat.
Saya melihat banyak akademisi Unila yang memiliki dedikasi dan kiprah, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Di antaranya Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Adriani, DEA, IPM, ASEAN Eng; Prof. Dr. Ayi Ahadiat, SE; Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D.; Dr. Budiyono, SH, MH; Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.KKLP; Prof. Rudy, SH, LLM, LLD; Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si., serta banyak akademisi lainnya.
Bagi saya, keberadaan para akademisi tersebut merupakan modal intelektual yang harus dihimpun dalam satu energi bersama.
Unila tidak boleh berjalan dengan kekuatan yang terpisah-pisah.
Setiap fakultas memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Dari Kampus ke Masyarakat
Salah satu contoh konkret adalah Fakultas Pertanian.
Sebagai salah satu kekuatan akademik Unila, Fakultas Pertanian memiliki ruang strategis di tengah agenda swasembada pangan, hilirisasi pertanian dan perkebunan, serta berbagai persoalan pangan yang dihadapi masyarakat.
Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas dan laboratorium.
Ilmu harus turun ke sawah, masuk ke perkebunan, menyentuh kehidupan petani, dan menjawab persoalan nyata.
Saya mengingat kembali gagasan Prof. Dr. Muhajir Utomo melalui konsep Tanpa Olah Tanah (TOT). Menurut saya, berbagai inovasi seperti itu perlu terus dikembangkan dan dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat.
Di sinilah konsep link and match menjadi penting.
Hasil penelitian Fakultas Pertanian, misalnya, tidak harus berhenti pada produksi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis dapat mengambil peran dalam aspek bisnis, pemasaran, pembiayaan, hingga hilirisasi produk.
Fakultas Hukum dapat memberikan perspektif mengenai kepastian regulasi sekaligus menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam memastikan aturan berjalan secara adil.
“Ubi societas ibi ius,” di mana ada masyarakat, di situ ada hukum.
Persoalan kebijakan pangan, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan produksi. Di dalamnya terdapat kepentingan petani, pedagang, penggilingan, pelaku usaha, pemerintah, serta masyarakat sebagai konsumen.
Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kajian berbasis ilmu pengetahuan sehingga kebijakan yang lahir dapat mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak dan meminimalkan potensi gesekan.
Teknologi untuk Produktivitas
Kolaborasi serupa juga dapat dilakukan Fakultas Teknik.
Di tengah perkembangan teknologi digital, berbagai inovasi dapat diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas masyarakat.
Drone untuk pemupukan, mesin pengering skala pedesaan, teknologi pengolahan hasil pertanian, hingga berbagai teknologi tepat guna merupakan contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjawab kebutuhan nyata.
Begitu pula dengan fakultas dan program studi lainnya.
Masing-masing memiliki potensi untuk dihubungkan dengan kebutuhan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat.
Bagi saya, link and match bukan sekadar jargon pendidikan. Perguruan tinggi harus mampu membaca perubahan zaman.
Dunia industri membutuhkan lulusan dengan kompetensi yang relevan. Pemerintah membutuhkan hasil penelitian yang dapat membantu menyelesaikan persoalan pembangunan. Sementara masyarakat membutuhkan ilmu pengetahuan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
Karena itu, kurikulum, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat perlu terus diselaraskan dengan kebutuhan zaman.
Semangat tersebut juga perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak boleh berjalan dalam ruang yang terpisah dari cita-cita bangsa.
Pendidikan harus mencerdaskan. Penelitian harus menemukan jalan keluar. Pengabdian harus menghadirkan manfaat.
Dan semuanya membutuhkan satu kata yang sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan: kebersamaan.
Mengembalikan Marwah Unila
Bagi saya, Unila bukan hanya milik rektor. Unila juga bukan semata-mata milik profesor, dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan.
Unila adalah rumah besar ilmu pengetahuan di Lampung.
Rumah yang pernah menghadapi persoalan dan mengalami tantangan dalam menjaga kepercayaan membutuhkan kerja bersama untuk merawat, memperkuat, dan mengembalikan marwahnya.
Karena itu, saya menyatakan kesiapan untuk mewakafkan pemikiran, tenaga, dan pengabdian dalam upaya memperkuat tata kelola Unila, membangun kembali kepercayaan, serta mendekatkan kampus dengan kebutuhan masyarakat Lampung dan cita-cita Indonesia.
Pada akhirnya, sebuah perguruan tinggi tidak hanya dikenang karena siapa yang pernah duduk di kursi rektor.
Perguruan tinggi dikenang karena jejak yang ditinggalkan setelah sang pemimpin meninggalkan kursinya.
Di sanalah makna kepemimpinan menemukan ukurannya: bukan semata tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa jauh ia mampu membuat orang lain tumbuh dan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi masyarakat.
(Penulis adalah Prof. Dr. Hamzah, SH, MH, Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Lampung.)








