Oleh: Usman Mursyid, S.Ag., M.Pd.
Pengasuh Al-Mursyid Islamic Boarding School Waylalaan, Tanggamus
Forum Diskusi Publik di Kabupaten Tanggamus pekan lalu kembali mengetuk kesadaran kita tentang satu persoalan mendasar: seberapa berat sebenarnya amanah yang dipikul oleh setiap pemimpin?
Di hadapan Bupati, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), akademisi, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis Rasulullah SAW kembali dikumandangkan. Bukan sekadar menjadi pembuka acara atau pelengkap seremoni, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap jabatan adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Bukan hanya di hadapan auditor, lembaga pengawas, ataupun masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut berlaku bagi siapa pun. Seorang bupati memimpin kabupaten, kepala dinas memimpin perangkat daerah, camat memimpin wilayahnya, kepala desa memimpin masyarakatnya, bahkan seorang ayah memimpin keluarganya. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari pertanyaan besar di akhirat nanti: Apakah amanah itu dijalankan dengan jujur? Apakah hak rakyat telah ditunaikan? Apakah keputusan yang diambil benar-benar menghadirkan keadilan?
Tolong-Menolong, Tetapi Pilih Jalannya
Allah SWT telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
Ayat ini menghadirkan dua pilihan jalan.
Jalan pertama adalah jalan kebajikan. Forum diskusi publik merupakan salah satu contohnya. Pemerintah menyampaikan program, masyarakat memberikan masukan, akademisi menghadirkan kajian, sementara tokoh agama mengingatkan nilai-nilai moral. Ketika semuanya berjalan beriringan, pembangunan akan bergerak lebih cepat dan lebih tepat sasaran.
Jembatan Way Kandis dapat segera terbangun. Jalan Limau–Kelumbayan bisa selesai tepat waktu. Ruas-ruas jalan yang masih rusak di Ulu Belu, Kelumbayan, maupun wilayah lainnya perlahan dapat diperbaiki.
Namun semua itu hanya mungkin terjadi apabila ada sinergi antara pemerintah yang transparan, masyarakat yang peduli, dan pengawasan yang berjalan secara sehat.
Sebaliknya, ada jalan kedua yang sering kali tidak disadari, yaitu tolong-menolong dalam dosa.
Bentuknya bisa sangat halus. Diam ketika mengetahui ada penyimpangan karena takut kehilangan jabatan. Menandatangani dokumen yang keliru karena tekanan atau imbalan. Menutup informasi publik demi melindungi kepentingan kelompok tertentu. Membiarkan hak masyarakat tergeser oleh kepentingan pribadi atau golongan.
Mungkin semua itu tampak selesai di dunia.
Namun sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai.
Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berganti. Harta akan habis. Tetapi catatan pengkhianatan terhadap amanah tidak pernah ikut pensiun. Catatan itu akan dibawa hingga ke liang lahat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Berat Menjaga, Mudah Menjual
Menjaga amanah memang berat.
Godaan tidak selalu datang dalam bentuk uang tunai atau suap yang terang-terangan. Ia hadir melalui berbagai istilah yang terdengar biasa, seperti “uang koordinasi”, “ucapan terima kasih”, “diskresi”, “titipan”, bahkan “demi kepentingan bersama”.
Karena itu, ada tiga sikap yang harus terus dipelihara, baik oleh pejabat maupun masyarakat.
Pertama, berani mengatakan yang benar meskipun pahit dan penuh risiko. Diam memang terkadang dianggap emas, tetapi hanya apabila diam tersebut tidak membiarkan kebatilan tumbuh.
Kedua, teguh menjaga amanah meskipun godaan datang dari orang-orang terdekat, bahkan dibungkus dengan alasan yang tampak baik.
Ketiga, saling mengingatkan ketika melihat kemungkaran, tetapi dilakukan dengan cara yang santun, bermartabat, dan berdasarkan data. Kritik bukanlah permusuhan. Kritik adalah bentuk kepedulian agar kesalahan tidak semakin besar.
Sesungguhnya jabatan hanyalah titipan, sedangkan harta hanyalah ujian.
Sejarah bangsa ini telah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuasaan yang disalahgunakan hanya meninggalkan penyesalan. Banyak nama besar runtuh bukan karena miskin, melainkan karena gagal menjaga amanah.
Sebaliknya, rezeki yang halal, meskipun sederhana, selalu menghadirkan ketenangan hidup yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan yang diperoleh dengan cara menzalimi orang lain.
Menjaga Kepercayaan Publik
Tanggamus tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna.
Tanggamus membutuhkan pemimpin yang jujur, rendah hati, dan bersedia menerima koreksi.
Demikian pula masyarakat.
Tanggamus tidak membutuhkan rakyat yang hanya pandai mengeluh tanpa peduli. Yang dibutuhkan adalah masyarakat yang mengawasi jalannya pemerintahan secara objektif, berdasarkan data dan fakta, bukan berdasarkan prasangka ataupun fitnah.
Apabila kejujuran tetap dijaga, baik di ruang rapat pemerintahan maupun di warung kopi tempat masyarakat berdiskusi, maka kepercayaan publik akan terus tumbuh.
Jembatan akan berdiri.
Jalan-jalan akan diperbaiki.
Pelayanan publik akan meningkat.
Dan pembangunan akan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Karena pada akhirnya, amanah memang berat. Jangan pernah menjualnya dengan harga yang murah. Sebab ketika amanah dijual, yang hilang bukan hanya jabatan atau karier, tetapi juga nama baik, ketenangan hidup, dan bekal untuk kehidupan akhirat.
Waylalaan, Tanggamus, 19 Juli 2026




