“Karena Kemanusiaan Tak Butuh Gelar atau Pujian”
SelidikPost.com,. – Hari itu, langit Aceh tampak muram, seakan ikut berduka atas bencana yang menimpa Pasar Raya Ulee Lheue. Tim kami tiba di lokasi evakuasi, dan pandangan pertama seketika menyesakkan dada. Pasar yang biasanya riuh—dipenuhi tawa pedagang dan hiruk-pikuk pembeli—kini berubah menjadi lautan puing. Genteng berhamburan, kios-kios roboh berserakan, dan dinding bangunan ambruk menimbun lumpur.
Aroma kematian begitu pekat menyelimuti udara, menembus masker dan membuat napas terasa berat. Setiap langkah adalah perjuangan: lumpur yang lengket, puing yang tajam, serta reruntuhan yang tak stabil memaksa kami berjalan perlahan, penuh kewaspadaan.
Di tengah medan yang kacau itu, kami menemukan pemandangan yang membekas kuat dalam ingatan—jenazah seorang perempuan Aceh yang masih bertabur perhiasan emas. Kilauan cincin, kalung, dan anting memantul di sela reruntuhan, seakan menolak kehancuran yang mengelilinginya. Mata kami tertuju pada detail yang sederhana namun memilukan: kalung yang masih tergantung di leher, cincin di jari, dan anting yang nyaris jatuh ke lumpur.
Perhiasan itu menjadi saksi bisu kehidupan yang terenggut dalam sekejap, simbol keindahan yang tersisa di tengah kehancuran. Beberapa jenazah lain terjepit puing, memaksa kami bergerak ekstra hati-hati, menggunakan sarung tangan tebal dan alat pengangkat demi keselamatan.

Setiap langkah, setiap tarikan napas, menguras tenaga dan emosi. Kaki pegal, tangan nyeri, dan pikiran terus dibayangi fragmen tragedi di sekitar. Dalam kondisi itu, energi kami sebagian besar bersumber dari ransum milik TNI—makanan padat gizi yang dirancang khusus untuk medan ekstrem.
Awalnya, rasa dan aromanya terasa asing. Bahkan, beberapa dari kami sempat menahan diri. Namun setelah berjam-jam bergelut dengan lumpur, mengangkat puing berat, dan menghadapi bau kematian, setiap suapan terasa seperti menyalakan kembali api yang hampir padam dalam diri kami.
Saat duduk sejenak di antara reruntuhan, membuka ransum dan menelan setiap gigitan, kehangatan dan energi perlahan meresap ke tubuh. Ransum itu bukan sekadar makanan; ia seperti memberi kekuatan tambahan. Tangan yang lelah kembali mantap mengangkat, kaki yang pegal kembali sigap melangkah, dan hati yang hampir putus asa kembali berani menghadapi reruntuhan.
Di sela-sela suapan, kami saling menatap, saling menguatkan, dan berbagi cerita—tentang jenazah yang berhasil dievakuasi, doa yang dipanjatkan, serta rintangan yang baru dilewati. Ransum itu menjadi pengikat kecil namun kuat, simbol solidaritas di tengah kehancuran.
Evakuasi di Pasar Raya Ulee Lheue adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Kilau perhiasan di tubuh korban, medan luas penuh jebakan, serta aroma kematian yang menyelimuti—semuanya mencampur aduk emosi: sedih, terharu, cemas, bahkan takut. Namun tekad untuk menunaikan tugas tak pernah goyah. Setiap jenazah yang berhasil diangkat, setiap doa yang dipanjatkan, menjadi bukti bahwa di tengah kehancuran, iman dan kemanusiaan tetap hidup.
Dalam keheningan, kami menyadari bahwa tragedi memang menghancurkan, tetapi rasa kemanusiaan, keberanian, dan solidaritas mampu bersinar lebih terang daripada reruntuhan di depan mata. Kilauan emas di tubuh korban menjadi simbol harapan, medan berat menguji ketahanan fisik, dan ransum TNI menguatkan tubuh serta semangat.
Di sanalah kami belajar: kehancuran bisa menyelimuti dunia, namun kemanusiaan tetap hidup. Doa terus diangkat, solidaritas terus berjalan. Kilauan emas, lumpur yang melekat di sepatu, dan ransum TNI yang menghangatkan perut berpadu menjadi kisah tentang perjuangan, harapan, dan kekuatan manusia untuk bertahan dan menolong sesama—meski dunia seolah runtuh di sekeliling kami
Bersambung …
Rupa-rupa Mayat : Harum,Ringan,menyengat,dan Ringan, berat, tersenyum (4)









