“Karena Kemanusiaan Tak Butuh Gelar atau Pujian”
SelidikPost.com – Setelah berhari-hari menyusuri puing dan lumpur untuk mengevakuasi korban tsunami, saya mulai menyadari bahwa gelombang besar itu bukanlah satu-satunya ancaman. Bumi masih belum tenang, dan manusia pun masih berkecamuk dalam pertikaian. Dalam satu hari yang panjang itu, kami para relawan menghadapi rupa-rupa jenazah… sekaligus dua ketakutan yang berjalan berdampingan pagi itu, kami menemukan jenazah seorang perempuan di dekat pohon kelapa tumbang. Tubuhnya masih utuh, wajahnya seperti tertidur, dan di pergelangan tangannya tersemat gelang emas yang masih berkilau.
Saya tertegun cukup lama.
“Gelang itu pasti punya cerita,” gumam saya dalam hati.
Hadiah? Kenangan? Atau peninggalan terakhir dari orang yang dicintainya?
Tak jauh dari sana, kami menemukan seorang anak kecil. Tubuhnya mungil dan tampak ringan. Tetapi saat saya mengangkatnya, tubuhnya terasa sangat berat—berat bukan karena fisiknya, tapi karena rasa kehilangan yang menyesakkan.
Anehnya, tak lama kemudian, kami mengangkat tubuh seorang pria bertubuh besar yang justru terasa ringan, seperti sudah kehilangan seluruh beban hidupnya.
Tidak ada yang bisa menjelaskan perbedaan itu. Namun satu hal pasti: setiap tubuh membawa kisah, membawa luka, membawa pesan yang tak terucapkan.
Di dekat tumpukan Puing-puing, kami menemukan jenazah yang membuat seluruh tim terdiam.
Saat mendekat, aroma harum menyeruak dari tubuhnya. Harum yang lembut—bertolak belakang dari suasana duka dan bau amis laut.

“Bang… ini kok wangi?” tanya Firman dan Feby relawan muda dengan suara pelan.
Kami tak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Seolah alam ingin mengatakan bahwa ada jiwa-jiwa yang tetap harum meski raganya telah terbaring kaku.
Saat kami hendak mengangkat jenazah lain yang terjepit batang pohon besar, tanah tiba-tiba berguncang keras.
“Gempa! Semua tiarap!” teriak komandan lapangan.
Kami menjatuhkan diri ke tanah bercampur lumpur. Pohon-pohon bergoyang, reruntuhan jatuh satu per satu, dan suara retakan membuat bulu kuduk berdiri. Gempa susulan seperti ini terus terjadi, dan setiap guncangan membuat kami teringat bagaimana tsunami bisa kembali muncul kapan saja.
Jenazah yang baru kami temukan masih terbaring di tandu.
Kami tak bisa kabur. Kami tak bisa berhenti.
Kami hanya bisa berdoa agar bumi cepat tenang.
Belum selesai gempa itu mereda, suara yang lebih menakutkan kembali terdengar dari arah perbukitan.
DOR! DOR! DOR!
“Baku tembak lagi… TNI sama GAM,” bisik warga yang ikut membantu evakuasi.
Hati saya langsung jatuh.
Di tengah bencana sebesar ini, manusia masih bertarung di antara luka yang sama.
Suara tembakan bergulung dari arah hutan—kadang dekat, kadang jauh, namun cukup untuk membuat kami tak bisa bernapas lega.
“Kalau terdengar makin dekat, kita mundur!” kata koordinator kami dengan wajah tegang.
Di detik itu, kami bukan hanya takut pada alam—tapi juga pada sesama manusia. Saat kami mengangkat dua jenazah sekaligus di tepi sungai yang penuh sampah tsunami, suara rentetan senjata kembali meledak, kali ini lebih keras.
Relawan muda di sebelah saya gemetar.
“Bang… kita lanjut atau berhenti?”
Saya menatap jenazah yang kami angkat. Di tubuhnya, masih ada kalung perak yang menempel erat.
Saya menghela napas panjang.
“Lanjut. Mereka harus pulang,” jawab saya, meski dada penuh ketakutan.
Kami bekerja cepat namun hati-hati.
Setiap langkah terasa seperti di antara hidup dan mati—antara guncangan bumi dan suara tembakan yang kapan saja bisa mendekat.
Hari itu, saya belajar bahwa ada dua jenis bencana:
Pertama, bencana alam yang datang tanpa ampun.
Kedua, bencana sesama manusia yang tak pernah benar-benar berhenti.
Saat menutup tubuh seorang anak perempuan dengan kain, saya melihat gelang manik-manik biru di tangannya.
Saya menatap langit.
“Andai dunia ini tenang… mungkin ia masih hidup.”
Di hari itu, kami mengangkat jenazah sambil mengangkat keberanian kami sendiri.
Di hari itu, kami tidak hanya berjuang melawan gelombang dan gempa—tapi juga melawan dentuman senjata yang terus menguji nyali kami.
Namun meski di hadapan dua ketakutan, kami tetap melangkah.
Karena seseorang harus melakukannya.
Karena setiap tubuh yang kami angkat bukan sekadar korban—mereka adalah manusia yang layak dihormati hingga akhir.
bersambung……………(5)









