Harlah ke-28 PKB, Chusnunia Tegaskan Komitmen Wujudkan Pesantren Ramah Santri dan Bebas Kekerasan Seksual

banner 468x60

SelidikPost.com, Metro – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lampung menegaskan komitmennya memperkuat peran pesantren sebagai ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi santri. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Temu Wilayah Pesantren yang digelar dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Hotel Aidia, Kota Metro, Selasa (7/7/2027).*

Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi, diskusi, sekaligus penguatan sinergi antara pesantren, akademisi, tenaga profesional, dan aparat penegak hukum dalam mencegah kekerasan seksual di lingkungan pendidikan berbasis pesantren.

Temu Wilayah Pesantren diikuti para kiai, pengasuh pondok pesantren, ustaz, dan santri dari Kabupaten Lampung Timur, Tulang Bawang, Mesuji, serta Kota Metro.

Turut hadir KH. Muallim Ridwan, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlatul Ulum Lampung Timur, Dr. Rika Damayanti, M.Kep., Ns., Sp.Kep.J, Wakil Dekan I Fakultas Psikologi UIN Raden Intan Lampung, Iptu Rizky Dwi Cahyo, Kasat Reskrim Polres Metro, serta KH. Muhammad Mabrur, Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 09 Lampung Tengah.

Ketua DPW PKB Lampung, Hj. Chusnunia, menegaskan bahwa PKB akan terus hadir mendampingi dan memperjuangkan kemajuan pesantren di Provinsi Lampung.

“Pesantren tidak akan berjalan sendirian. PKB siap terus mendampingi, mengayomi, dan menjadi benteng perjuangan bagi kemajuan pesantren di Lampung. Kami juga siap bersinergi dengan para tenaga ahli maupun profesional untuk mewujudkan pesantren yang ramah santri,” ujarnya.

Chusnunia menegaskan bahwa pesantren merupakan pilar penting dalam pembangunan karakter bangsa sehingga perlu mendapatkan dukungan bersama agar tetap menjadi lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bermartabat.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga marwah pesantren, termasuk kehormatan gelar yang menjadi bagian dari tradisi kepesantrenan.

“Kita semua sebagai warga pesantren harus mampu menjaga marwah penyematan gelar kiai, gus, maupun ning. Gelar tersebut tidak boleh disematkan kepada sembarang orang yang tidak jelas asal-usul, keilmuan, maupun integritasnya. Bukan berarti kita anti terhadap siapa pun, tetapi ini sebagai upaya menjaga kehormatan dan nilai-nilai pesantren,” tegasnya.

Sementara itu, Pengurus DPW PKB Lampung yang juga Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Abdul Azis, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan pemahaman sekaligus membangun langkah konkret dalam mencegah kekerasan seksual di lingkungan pesantren.

“Melalui kegiatan ini kami ingin membangun kesadaran bersama agar kasus kekerasan seksual dapat diminimalkan. Harapannya, dengan edukasi dan kolaborasi semua pihak, kasus-kasus seperti ini bisa dicegah sejak dini,” kata Abdul Azis.

Dalam forum tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai penyebab terjadinya kekerasan seksual, faktor-faktor yang memengaruhinya, strategi pencegahan, mekanisme penanganan korban dari aspek psikologis maupun hukum, hingga proses rehabilitasi.

Kegiatan ini juga menjadi wadah memperkuat kolaborasi antara pesantren, akademisi, aparat penegak hukum, dan tenaga profesional dalam membangun sistem perlindungan yang lebih baik bagi para santri.

Melalui Temu Wilayah Pesantren, DPW PKB Lampung berharap lahir komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan seksual.

Selain memperkuat perlindungan terhadap santri, forum ini diharapkan mampu mempererat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan generasi berakhlak, berilmu, dan berintegritas. (*)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *