SelidikPost.com, Bandar Lampung — Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinas Pangan mengungkap penyebab kelangkaan minyak goreng subsidi “Minyak Kita” di sejumlah pasar tradisional. Salah satu faktor utamanya adalah tingginya kebutuhan untuk program bantuan pangan nasional yang segera disalurkan kepada masyarakat.
Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung, Ichwan Adji Wibowo, menjelaskan bahwa “Minyak Kita” saat ini menjadi bagian dari paket bantuan pangan periode Februari–Maret 2026 yang akan dibagikan pada awal Mei. Jum’at 24/4/26
“Program bantuan pangan periode Februari–Maret akan dibagikan di awal Mei. Setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan dua karung beras masing-masing 10 kilogram, jadi total 20 kilogram, ditambah ‘Minyak Kita’ sebanyak 4 liter dalam kemasan 2 liter,” jelas Ichwan.
Menurutnya, tingginya kebutuhan untuk program bantuan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya pasokan “Minyak Kita” di pasaran. Distribusi minyak goreng subsidi saat ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan bantuan pangan di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung.
“Karena ‘Minyak Kita’ sedang didistribusikan untuk bantuan pangan, maka di pasar memang terjadi keterbatasan. Ini karena sebagian besar stok diserap untuk program tersebut,” katanya.
Ichwan menambahkan, selain faktor pengalihan distribusi, kemungkinan juga terdapat kendala pada sisi penyaluran oleh Bulog. Meski demikian, pihaknya menegaskan agar harga di tingkat pasar tetap sesuai ketentuan dan tidak memberatkan masyarakat.
“Kalau dari distribusi Bulog memang ada kendala atau pengalihan, kita tidak bisa berbuat banyak. Yang penting harga jangan sampai melanggar ketentuan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah penerima bantuan pangan pada tahun 2026 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 jumlah penerima tercatat sekitar 52 ribu keluarga, maka tahun ini meningkat menjadi 100.624 keluarga penerima manfaat (KPM).
“Artinya meningkat hampir 100 persen. Tahun ini cakupan penerima juga diperluas berdasarkan desil kesejahteraan, dari sebelumnya hanya desil 1 sampai 3, sekarang hingga desil 5 dan 6 juga menerima,” ujarnya.
Sementara itu, di lapangan, para pedagang mengeluhkan kosongnya stok “Minyak Kita” selama sekitar satu bulan terakhir. Dodi, pedagang sembako di Pasar Gintung, mengaku sudah lama tidak mendapatkan pasokan dari supplier.
“Minyak Kita sudah ada satu bulanan tidak ada. Kami juga kurang tahu penyebabnya karena ambil dari supplier,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Ilham, pedagang lainnya, yang menyebut stok dari grosir juga kosong. Sebelum mengalami kelangkaan, “Minyak Kita” dijual di kisaran Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter, mengikuti harga dari distributor.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah mengimbau masyarakat untuk sementara menggunakan alternatif minyak goreng lain sambil menunggu distribusi “Minyak Kita” kembali normal setelah penyaluran bantuan pangan selesa ( Bust )









